Sabtu, 14 September 2013

Abi, Ceritakan Aku tentang Akhwat Sejati!



Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya:

“Abi, ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati
Sang Ayah tersenyum dan menjawab :
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan  paras wajahnya
o   Tetapi dari kecantikan hati yang ada di baliknya
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona
o   Tetapi dari sejauh mana ia menutupi tubuhnya
Akhwat sejati bukanlah begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan
o   Tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan tersebut pada orang lain
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya
o   Tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan
Akhwat sejati bukanlah dilihat keahliannya berbahasa
o   Tetapi dari bagaimana caranya ia berbicara
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian
o   Tetapi dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan
o   Tetapi dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani
o  Tetapi dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul
o  Tetapi dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul

Setelah itu, gadis tadi bertanya lagi :
“Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ya Abi?”
Sang Ayah memberinya buku dan berkata :
“Pelajari tentang dia.”
Sang gadis kecil pun mengambil buku itu.
‘Istri Para Nabi’, judul yang tertulis di buku itu.

Kamis, 12 September 2013

KEBAL

Terlahir dari keluarga miskin siapa yang mau, memang takdir Allahlah yang menentukan segalanya. Ada 4 takdir yang Allah tetapkan pada diri manusia, yaitu jodoh, mati, rezeki dan kebahagian atau kecelakaan. Keempatnya sudah Allah tiupkan pada setiap diri manusia bersamaan dengan ditiupkannya ruh.
Ada sebuah keluarga miskin yang dikaruniai banyak anak. Keluarga besar itu tinggal di sebuah pedesaan yang tak jauh dari ibukota. Mereka menyadari bahwa kemiskinan bukanlah sebuah takdir, meskipun memang rezeki termasuk ke dalam salah satu takdir. Namun, tahu dan sadar saja tidak cukup, harus ada usaha keras dari diri mereka sendiri agar keluar dari zona miskin.
Kebal, anak keenam dari keluarga tersebut memiliki sifat yang khas ketimbang kelima saudaranya yang lain. Kebal adalah anak bungsu yang selalu dimanja dan dituruti semua keinginannya. Semenjak lulus SMA ia sama sekali tidak berpikir untuk bekerja, menghasilkan uang dan bahkan membahagiakan orangtuanya. Ia seperti laiknya anak yang hidup di belakang ketek ibunya. Setiap hari ia selalu menguras keringat ibunya sendiri. Bukannya ia yang bekerja, tapi malah ibunya yang bekerja. Ibunya, Sukiarti bekerja menjadi buruh di keluarga saudara kandungnya yang kedua.
Memang Teti, saudara kandungnya yang kedua sudah bisa hidup sendiri, tidak lagi bergantung pada ibunya yang kini tinggal sendiri semenjak ditinggal suami 2 tahun yang lalu. Mereka berusaha keras untuk keluar dari zona miskin. Hingga akhirnya mereka bisa menyekolahkan anak pertamanya di sekolah kebidanan dari hasil usahanya menjadi tukang bubur.
Pagi hari Sukiarti sudah berangkat ke rumah Teti, anaknya. Kadang ia bekerja sebagai pencuci piring, ‘penjujut’ daging, atau pemotong hati ayam. Ia diberi upah 20.000 setiap harinya.

 Sesuai dengan namanya, Kebal, kebal hati, kebal iman dan kebal malu. Rasanya ia sudah tak punya malu tiap hari meminta uang kepada ibunya yang dengan susah payahnya ia dapat setelah bekerja keras seharian. Tak punya hati memang, apalagi iman. Hingga di usianya yang ke-27 ia menikah dengan seorang perempuan desa. Tak ubahnya ikan yang keluar dari habitatnya, ia kebingungan menghidupi keluarganya. Hingga akhirnya, kembali ke sifat bawaannya, ia memperkerjakan ibunya sendiri sebagai buruh untuk menghidupi keluarganya.

Brain Heater

“Hoammmm”
Seorang mahasiswa tiba-tiba sesegera mungkin bangun dan menyalakan semua lampu di apartemennya. Ia adalah mahasiswa jurusan Robotic, Fakultas Ilmu Angkasa (FISA) University of Mercury. Setiap hari ia harus bangun pagi dan mempersiapkan segala keperluan untuk kuliahnya.
“Jam berapa sekarang?” gumamnya sendiri.
“Astaga uda jam 6 lagi, mati deh gue. Tadi malem tuh kotak gue taruh dimana ya? Ohmygod, kalo sampe kotak itu ga ketemu bisa-bisa hari ini gue bakalan tidur seharian di kelas. Kebayang kalo sampe itu terjadi, kali ini pasti gue di…Nooooooooo!”
Tiba-tiba ia melirik ke sudut bawah dapur apartemennya, ia melihat sekilas warna merah mencolok. Ternyata, memang benar itu adalah kotak yang ia cari. Brain Heater!
Buru-buru ia colokkan kabelnya, mengambil otak cadangan dan memanaskan di ‘Brain Heater’ (pemanas otak) untuk persiapan kuliahnya hari itu.
Zaman modern telah merubah pola hidup para manusia. Semuanya serba canggih, zaman teknologisasi. Setiap aktivitas pasti dilakukan menggunakan alat modern nan canggih. Tak perlu waktu lama, otak yang ia panaskan sudah siap. Ia menyimpannya di sebuah tabung sterilisasi kedap udara yang dirancang khusus penyimpanan otak. Otak yang lowbatt akan berdampak pada kinerja mata. Organ tubuh manusia telah mengalami recreate sehingga otak yang lowbatt akan terlihat pada warna bola matanya. Bola mata hijau menunjukkan otak full charge, warna kuning menandakkan peringatan bahwa otak harus segera diganti, sedangkan warna merah menunjukkan otak sudah tidak berfungsi dan tidak bisa digunakan. Tanda-tanda warna bola mata itu bisa dilihat dari pantulan warna yang memantul di kulit baik kulitnya sendiri maupun kulit orang lain.

Maksimalnya otak bisa digunakan selama 24 jam. Namun, ada spesifikasi khusus dalam penggunaannya. Biasanya jarang ada otak yang bisa digunakan full 24 jam. Otak full 24 jam hanya bisa digunakan jika orang itu hanya duduk diam saja tanpa aktivitas apapun. Kalau makan dan minum, battery otak akan berkurang 20 menit. Sedangkan untuk proses berpikir baik itu membaca, mencatat/ menulis/ semacamnya, mendengarkan materi, diskusi, dsb kinerja otak berkurang 2 jam. Jadi kalo kita perkirakan normalnya otak untuk mahasiswa bisa digunakan selama 11 jam dari hasil akumulasi segala aktivitas yang biasa mahasiswa lakukan.    

Membina Orang Lain Sama dengan Membina Diri Sendiri

"Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantara dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unt merah." (HR. Bukhari)
Harus bercermin dan berhati-hati, dua kunci utama dalam berinteraksi di jalan da'wah ini, terlebih lagi dalam upaya mengkader serta membina para objek da'wah. Kita tidak boleh ceroboh dan mudah melemah. Karena kita tahu dan semakin menyadari bahwa keberhasilan da'wah selalu merupakan turunan dari adanya qudwah dalam kaderisasi yang kita jalani.
"An naas 'alaa diini muluukihim" (manusia itu tergantung agama rajanya)
Untuk itu, sebenarnya seorang pemimpin akan segera mengetahui karakter dirinya dengan melihat orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Tak bedanya dengan seorang murabbi, pembina maupun juru da'wah. Karakter dan sikap-sikapnya akan turun dan sangat mewarnai kader-kader yang dibina dan dida'wahinya.
Kita bisa ambil pelajaran dari sini bahwa menda'wahkan orang lain sama halnya dengan menda'wahi diri kita sendiri. Menasihati orang lain sama halnya dengan mensihati diri kita sendiri. Pun dengan membina orang lain sama dengan membina diri kita sendiri.

Sebagian banyak dikutip dari Buku "Beginilah Jalan Da'wah Mengajarkan Kami" karya M. Lili Nur Aulia.

POLEMIK MISS WORLD 2013


POLEMIK MISS WORLD 2013
Oleh:
AI NURAENI
Kabid. Kemuslimahan Program Tutorial UPI Kampus Tasikmalaya
            Polemik dalam artian Bahasa Indonesia adalah sejenis diskusi atau perdebatan sengit yang diadakan di tempat umum atau media massa berbentuk tulisan, seperti surat kabar, majalah, internet dan telepon selular. Sekarang ini banyak peristiwa atau informasi baik fakta maupun hanya sekadar gossip yang diberitakan di media massa tulis seringkali mendapat perhatian lebih dari khalayak. Alasannya, karena memang informasi di media massa terlebih lagi internet sekarang lebih update ketimbang media massa lainnya. Meskipun pada dasarnya, tidak ada satu media massa pun yang tidak berbau politik. Kesemuanya pasti memiliki tujuan khusus dalam menginformasikan suatu berita.
            Dan yang menjadi polemik saat ini adalah perhelatan Miss World 2013. Bukan hal aneh jika perhelatan ini mengundang kontroversi. Apalagi yang menjadi tuan rumah kontes kecantikan tahun ini adalah Negara yang manjunjung tinggi norma dan budaya serta notabene mayoritas penduduknya beragama Islam.
            Banyak di kalangan ormas di Indonesia yang dengan tegas menentang diadakannya kontes kecantikan Miss World ini. Karena pada hakikatnya kontes ini lebih banyak mendatangkan kemudharatan daripada sisi positif bagi Indonesia.
"Ajang itu hanya menguntungkan elite politik tertentu yang memiliki kaitan langsung dengan pebisnis atau penyelenggara," kata dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unud, Pengamat hubungan internasional Universitas Udayana (Unud) Denpasar Idin Fasisaka MA di Denpasar, Senin (9/9).
Kalau dalihnya, kontes kecantikan ini akan meningkatkan pariwisata Indonesia di mata dunia. Apakah memang itu ada buktinya? Faktanya, tidak ada satu Negara pun yang pernah dijadikan tuan rumah ajang Miss World ini naik pariwisatanya gara-gara Miss World. Atau bahkan yang menjadi pemenangnya sekalipun. Sebagai bukti, dari kontes sejenisnya yaitu Miss Universe. Mari kita lihat datanya, Venezuela adalah negera yg memenangkan Miss Universe 2008 dan 2009, kalian tahu berapa pertumbuhan turis mancanegara mereka setelah wanita mereka menang? Minus 3%. Jepang yang memenangkan tahun 2007, pertumbuhan turisnya setelah menang, nol sekian persen saja. Dan Kanada, menang tahun 2005. Berikut data kunjungan turis di negeri itu: 
19.145.000     (2004)
18.771.000     (2005)
18.265.000    (2006)
17.935.000    (2007)
17.142.000     (2008)
Menakjubkan, sejak menang Miss Universe, kunjungan turis ke Kanada turun drastis dari 18juta orang tinggal 17 juta orang. Di mana letak dampak kontes kecantikan itu?
Sama halnya dengan Wakil Gubernur jawa Barat, Deddy Mizwar, menurut dia, jika kontes ini menimbulkan pro dan kontra hingga berujung perpecahan dan hingga membuat citra buruk bagi Indonesia maka pelaksanaan kontes Miss World 2013 tidak diadakan terutama di Jawa Barat. Serta yang menjadi kekhawatiran lainnya adalah tentang penyelenggaraan Miss Wolrd ini hanya demi keuntungan pengusaha semata karena selama ini penyelenggaraan Miss World dilakukan oleh pengusaha dan pihak swasta, sementara pemerintah tidak dilibatkan.
Alhasil, Alhamdulillah tempat berlangsungnya kontes ini hanya akan diadakan di Bali saja dari mulai pembukaan sampai final nanti, yaitu pada tanggal 28 September 2013. Tapi tidak cukup disana, sebagai umat muslim sudah barang tentu kewajiban kita untuk tetap pada prinsip bahwa harus menolak kebathilan yang jelas nampak di muka bumi. Memang, jika kita menganalisis slogan yang seringkali digembar-gemborkan oleh penyelenggara, yaitu dengan 3B nya (Brain, Beauty and Behaviour) maknanya sungguh luar biasa. Kata brain bermakna cerdas, beauty mempunyai makna cantik dan behaviour bermakna karakter (tingkah laku). Nah sekarang coba kita analisis bersama-sama makna dari ketiga kata tersebut.
Pertama, kata brain yang berarti cerdas. Apakah kalian setuju jika seorang perempuan apabila bisa menjawab pertanyaan yang diajukan juri di ajang Miss World ini dalam waktu sepersekian menit itu dikatakan CERDAS? Jawabannya, tentu iya. Benar, ia bisa dikatakan cerdas jika ia bisa menjawab pertanyaan juri hanya dengan waktu yang singkat. Tapi apakah kecerdasan perempuan itu hanya diukur dengan cara itu saja? Tidakkkkk kawan-kawan…
Kedua, beauty  yang bermakna cantik. Menurut Ketua Bidang Perempuan PP KAMMI Pusat mengatakan bahwa, definisi cantik dalam kontes ini diarahkan kepada tafsir cantik secara fisik semata. Betapa tidak, kriteria cantik peserta Miss World ini jika dilihat dari sudut pandang manapun, sejatinya tidak mencerminkan unsur lain selain kecantikan fisik dari perempuan itu sendiri. Cantik yang kemudian semacam dipaksakan dan digiring menjadi satu tafsir yang hanya di lihat dari tinggi badan, proporsionalnya lingkar pinggang, panjang kaki, bahkan sampai ukuran dada. Nah, apakah kawan-kawan sependapat dengan hal itu? Bahwa definisi cantik dalam kontes ini diarahkan kepada tafsir cantik secara fisik semata? Ya, pastinya akan sependapat. Sebenarnya, kalau kita ditanya siapa perempuan yang paling cantik di dunia ini? Apakah kawan-kawan akan menjawab ‘pastinya ya yang jadi juara Miss World-lah’? Hmm..kalau saya pribadi sih akan jawab ibu saya J
Kemudian yang ketiga, yaitu behaviour yang berarti karakter (tingkah laku). Karakter perempuan yang seperti apa yang ditonjolkan dengan adanya kontes kecantikan ini? Apakah karakter perempuan yang memiliki nilai peduli sosial tinggikah? Atau hanya ingin terlihat peduli? Ya, semoga saja ini bukan karena kesuudzanan saya. Tapi kalau dilihat dari konteks kegiatannya, meskipun dibalut dengan aksi dan peduli sosialnya sekali mempertandingkan kecantikan, tampilan fisik maka sama saja situasinya. Ditambah lagi dengan adanya pemutar balikan logika yaitu akan diadakannya Miss World Muslimah. Hal itu tidaklah benar kawan.
Intinya, saya mengutip dari kata-kata Tere Liye, “Jangan dicampur-campur, jangan diputar balik logikanya. Tidak akan pernah ada di atas panggung itu peserta yang jerawatan, gemuk, cacat, buta, dan sebagainya yang menang. Cukuplah basa-basi argumen pendukung acara ini. Wanita itu sudah mulia, jangan mau dibanding-bandingkan dengan wanita lain secara tampilan”.***

Selasa, 10 Juli 2012

Seminar Bangga Jadi Guru Dompet Dhuafa

TASIK-Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Menteri Kordinasi Pendidikan dan Keagamaan BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya mengadakan seminar Bangga Jadi Guru yang menjadi salah satu rangkaian roadshow Open Recruitmen Sekolah Guru Indonesia IV “Awaken The Teacher Within” tiga kota, yakni Tasikmalaya, Semarang, dan Makasar di Aula UPI Kampus Tasikmalaya, Selasa (10/7).
Tasikmalaya menjadi kota pertama dari rangkaian roadshow tiga kota ini. Roadshow yang berlangsung pada tanggal 10-25 Juli 2012 ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Hendro (Dompet Dhuafa), Asep Sapa’at (Peneliti, Penulis), dan Dindin Abdul Muiz Lidinillah, S. E., S. Si., M. Pd. (Dosen UPI Kampus Tasikmalaya). 
“Ini merupakan acara seminar Bangga Jadi Guru dari dompet dhuafa yang diadakan bagi calon guru, alumni UPI Kampus Tasikmalaya, atau disiplin ilmu manapun yang berkompeten dengan tujuan untuk mengubah paradigma bahwa guru itu adalah kehidupan, niat untuk mengajarkan, dan memberi ilmu, serta rekruitmen bagi yang mau mengabdikan dirinya untuk menjadi guru di daerah terpencil yang hanya memiliki fasilitas minim”, kata Ketua Penyelenggara, Risa Wismaliya.
Presiden BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya, Muhammad Rijal Wahid Muharram mengatakan bahwa “Acara ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan terutama dalam bidang pendidikan dalam hal ini di kampus kita ini seminar-seminar bisa dikatakan masih kurang. Dengan adanya seminar  yang bekerjasama dengan dompet dhuafa dan lembaga ini, UPI dengan BEM REMA nya ingin menunjukkan eksistensi kepada yang lain. Dan ini menjadi sebuah awal batu loncatan, menjadi fasilitas untuk kita bahwa UPI itu ada”, ujarnya.
Dalam seminar ini, beberapa pendapat dari setiap pemateri menyampaikan argumennya mengenai fungsi dan peran guru. Guru bukan hanya sebuah status melainkan peran dimana pun berada, baik sebagai dokter, polisi, ataupun pengusaha, ujar salah seorang dosen UPI Kampus Tasikmalaya, Dindin Abdul Muiz Lidinillah, S. E., S. Si., M. Pd.. Guru adalah kehidupan, maka bekerjalah untuk kehidupan, bukan untuk penghidupan. Makna inilah yang paling pas dan mendominasi dari semua pendapat yang disampaikan oleh tiap pemateri tak terkecuali juga moderator, yakni Leli Salimatul Hafsah, S. Pd..

Seminar Bangga Jadi Guru mengubah paradigma para peserta mengenai fungsi dan peran guru. Guru yang hanya sebagai sebuah status, sertifikasi, kemudian mendapatkan penghasilan bagi sebagian orang merupakan paradigma yang kurang tepat. Asep Sapa’at menjelaskan bahwa guru bukan hanya sebuah status, melainkan apa yang bisa diberikan kepada orang lain, dan apa yang bisa diberikan pada kehidupan. Giving your best gifts by teaching others, mendapatkan kehidupan terbaik Anda dengan memberikan terbaik dari Anda, tambahnya. 
Selain kegiatan seminar pada acara tersebut diadakan forum diskusi bagi peserta yang mengisi formulir dan mendaftarkan diri pada program Sekolah Guru Indonesia. Pada waktu itu pula diadakan seleksi yang meliputi interview, bagi yang berhasil lolos menjadi pengajar atau pendamping sekolah akan ditempatkan di sekolah-sekolah terpencil dan terpelosok dan mengabdikan dirinya selama kurang lebih satu tahun.
Acara ini diakhiri dengan sebuah kesan dan pesan dari salah seorang peserta sekaligus moderator seminar tersebut, “Kesan yang saya rasakan setelah mengikuti seminar ini yaitu saya benar-benar merasakan bangga menjadi seorang guru. Dan pesannya bagi adik-adik, teman-teman, ataupun bagi diri saya sendiri bahwa menjadi guru dan mengajar menjadi sebuah keharusan dan itu pilihan apakah kita akan berbangga dengan status kita yang menjadi guru hanya mengajar dan duduk-duduk atau benar-benar mengabdikan diri kita dengan apa yang kita miliki meskipun itu sedikit. Jadi berbanggalah menjadi seorang guru, menjadi seorang pendidik. Dan hidup itu pilihan. Maka jangan sia-siakan hidup Anda,” ujarnya.***

Ai Nuraeni
Rekam UPI Kampus Tasikmalaya

Senin, 09 Juli 2012

UPI Kampus Tasikmalaya Gelar LATGAB PRAMUKA se-UPI

 Organisasi pramuka UPI Kampus Tasikmalaya Ki Hajar Dewantara mengadakan LATGAB PRAMUKA se-UPI ke-8. Sebagai tuan rumah pelaksanaan LATGAB, UPI Kampus tasikmalaya mengundang kelima kampus UPI, diantaranya kampus UPI Bandung, UPI Kamda Purwakarta, UPI Kamda Serang, UPI Kamda Sumedang, dan UPI Kamda Cibiru. Pelaksanaan LATGAB dipusatkan di tempat wisata Situ Gede Kota Tasikmalaya selama 3 hari (6,7,8/7) yang berlangsung sangat meriah.
Selain diisi dengan latihan gabungan kepramukaan, diisi pula dengan kegiatan sosial dengan bekerja sama dengan PMI Kota Tasikmalaya. Kegiatan sosial yang diadakan sebagai pengabdian kepada masyarakat, diantaranya meliputi tes kesehatan dan tes darah gratis. Adapun wisata keterampilan ke pusat pembuatan batik tasik, Cigeureung.    
Game yang mengasah keterampilan dan kerjasamapun dihadirkan dalam LATGAB kali ini untuk memunculkan kebersamaan dan saling mengenal antar anggota pramuka yang notabenenya sama-sama mahasiswa UPI yang terbatas oleh perbedaan kampus, daerah, dan jarak”, tutur Ketua Pelaksana kegiatan yaitu  Suci Ramadhani (8/7).
LATGAB ke-2 di Tasikmalaya ini dihadiri oleh 72 anggota pramuka dari seluruh kampus UPI, terkecuali kampus UPI Bandung. “Namun ketidak hadiran salah satu kampus tidak menjadi penghambat kemeriahan acara ini, acara terus berlangsung dengan lancar”, tambahnya.
Para peserta dimanjakan dengan berbagai aktivitas kepramukaan dan pengenalan lingkungan serta beberapa tempat di Tasikmalaya sebagai jamuan dari tuan rumah.
Sebagai acara puncaknya pelaksanaan malam  keakraban dan api unggun dihadirkan untuk mengakhiri malam inap di Situ Gede. Acara ini  ditujukan untuk saling mengenal dan mengenalkan  daerah serta kampus daerah masing-masing peserta, dengan membawa makanan khas daerah  masing-masing yang dibagikan ke seluruh peserta.
Sebagai agenda rutinitas tiap tahun, acara LATGAB PRAMUKA ini dilaksanakan sebagai jembatan dalam menyatukan mahasiswa UPI yang memiliki multi kampus, yakni kampus daerah yang tersebar di beberapa daerah provinsi Jawa Barat dan Banten. Untuk itu, tahun depan acara serupa akan dilaksanakan kembali pada bulan Desember yang  bertempat di UPI Kampus Daerah  Purwakarta.***

Niar Nurul Arifin dan Ai Nuraeni
Rekam UPI Kampus Tasikmalaya