Minggu, 18 Oktober 2015

Selalu, ketika di penghujung akhir tahun aku merasa sedikit sensitif. Bisa dilihat dari postingan di blogku ini. Kebanyakan di posting sekitar bulan juni, september atau bulan yg lainnya di penghujung akhir tahun.

Kali ini pun sama. Tidak tahu, sensitif sekali bawaanya.

I thought i feel so annoying.
And not adorable in my old.
Yups, i was 23 years old.
Tapi pikiranku entahlah tak sedewasa usiaku.
Mungkin karena aku terlahir sebagai anak bungsu. Tapi itu hanya sebuah pembenaran. Tentu saja.

Too childish in my old.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Shock subhanalah seketika langsung tersentak kaget ketika mlhat notif dan ada tag-an dari sang kakak  Ia memposting foto kluarga..wisuda si bungsu Ai Nuraeni di UPI Bandung..ada sedikit malu tapi sungguh luar biasa bahagianya..pikirku mgkin ini sbg rasa bangga seorang kakak terhadap adiknya atau juga rasa bangga memiliki keluarga seperti sekarang ini..subhanallah walhamdulillah cc: bapak, mamah, a dani dan a opik.

Live on Target
Manusia hanya bisa merencanakan, namun Allah-lah yang menentukan.
Going on the track..
Berjalanlah pada jalan yang telah kau rencanakan diawal.
Usahakan pandangan tetap lurus kedepan, sesekali boleh tengok kanan dan kiri. Untuk apa? Agar kau bisa tau dan membandingkan sudah seberapa jauhkah targetan orang-orang.
Bukan untuk membuatmu menciut atau bahkan melangkah mundur melainkan supaya tertularnya energi positif yang akan memicumu melaju lebih cepat.
Teruslah bergerak..diam hanya akan membuat nafasmu terengah lebih cepat dan akhirnya lelah karena kehabisan nafas.
Bergeraklah walaupun itu hanya langkah kaki kecil nan lamban.
#‎revised #‎myownTarget
Ketika semua menjelma menjadi uang.
Bukan keikhlasan yang akan kau rasakan.
Lalu, apakah yang akan kau rasakan?

Beban.
Tekanan.
Kekacauan.
Dan berakhir penyesalan.
Tidakkah kau menginginkan itu?
Pastinya, siapa yang mau.
Bila kau fahami dalam2, dari uang kita bisa belajar keikhlasan. Keikhlasan melakukan suatu amal dengan tak memikirkan akan dibayar berapa kita nantinya. Pun dari uang kita bisa belajar rasanya bersyukur. Bersyukur diberi amanah untuk menyimpan titipan dunia yang sementara ini. Juga dari uang kita bisa belajar disiplin dan hemat. Disiplin dan hemat dalam memanage. Mendahulukan apa yang menjadi prioritas utama.
Alangkah bahagianya ketika semua menjelma menjadi uang, namun apa yang dirasakan 180 derajat berubah.
#‎moneyoriented #‎ikhlas #‎syukur
Tak kenal..
Misterius
Terpikirkan..
Terbayangkan..
Tak pernah
Satu bertemu
Berdegup (pasti)
Khayalan..
Suatu saat..pasti merasa

Pikirannya strategis atau teknis
Aktif..berbicara..
Sesekali berhenti..diam..
Pemerhati sejenak
Kembali berbicara
Bukan pertanyaan lanjutan
Solusi yang ditawarkan
Analisa yang dalam
Diskusi yang hebat

Senin, 15 September 2014

Golongan Obyek Dakwah (golongan yang berprasangka buruk)

Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kacamata hitam pekat, dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus berada pada keraguan, kesinisan dan gambaran negatif tentang kami.

Bagi kelompok macam ini, kami bermohon kepada Allah SWT. agar berkenan memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan memberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami memohon kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus.

Kami akan selalu mendakwahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdoa kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki mereka. Memang, hanya Allah-lah yang dapat menunjuki mereka. Kepada Nabi-Nya Allah berfirman tentang segolongan manusia,

"Sesungguhnya, kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang kamu suka, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang ia kehendaki." (Al-Qashash: 56)

Walaupun begitu, kami tetap mencintai mereka dan berharap bahwa suatu saat mereka akan sadar dan percaya pada dakwah kami. Terhadap mereka kami menggunakan semboyan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.,

"Allahummagfirliqaumii fainnahum laa ya'lamuun"
Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.

Kini tiba saatnya bagi setiap muslim untuk memahami tujuan hidupnya dan menentukan arah perjalanannya. Ia harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menempuh jalan tersebut agar dapat mencapai tujuannya. Adapun mereka yang lalai dan terus dalam kebingungan, yang suka bersantai-santai, yang hatinya buta dan gampang terbujuk oleh rayuan, maka tidak ada tempat bagi mereka di jalan panjang orang-orang yang beriman.

-Diambil dari bukunya Hasan Al-Banna-

Senin, 23 Juni 2014

Aku Bukan Iri

bukan aku tak suka
tapi aku geli mendengarnya
bukan aku tak mau
tapi aku bosan melihatnya
kamu selalu saja seperti itu
membanggakan diri dan meninggikan hati
ini bukan iri
jelas ini bukan iri
terlebih lagi dengki

berhentilah...berhentilah
aku tak mau kau terjerumus pada lubang yang lebih dalam
bukan karena aku orang yang suci pun tak terjerumus juga
melainkan aku sudah merasakan hal itu lebih dulu
keluarlah...keluarlah

Bukan Masalah

ini bukan masalah aku
yang hanya tau masalah tentang hati
ini bukan masalah kamu
yang hanya tau masalah tentang logika

masalah sebatas retorika
pintar dimulut diucap beribu kata
masalah sebatas wacana
hanya terungkap sesaat itu saja

ini bukan masalah aku, kamu ataupun kita..

Cinta dalam Sangkaan

Anggaplah itu sebagai cinta
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga takan ada komunikasi cinta saling berbalas
Anggaplah itu sebagai cinta
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga apabila bertemu
takan ada degup jantung yang semakin keras

Tetaplah dalam sangkaanmu
bertegur sapa tanpa saling ragu
bercengkrama tanpa malu
namun senantiasa menjaga adab berperilaku

Senin, 13 Januari 2014

Heart: The Firm Without Term

Simpan perasaan itu sampai tiba waktunya. Pastibisa!

Hanya kalimat itu yang saya ingat dan menempel di otakku. Entah kenapa semenjak itu hati ini dipenuhi rasa bersalah dan terasa kotor sekali. Menghilangkannya dan membersihkannya adalah suatu hal tersulit. Menjadi manusia hina menurutku itu yang pas buatku. Tapi itu tidak menjadikkanku terus larut dalam kubangan yang menjijikkan. 

Wanita memang sensitif sekali hatinya. Hatinya lembut sehingga terkadang mudah larut dengan kata-kata manis dan menggoda terlebih lagi oleh kata-kata ambigu dari sang yang dikagumi. Pernyataan ini bukan berarti menyalahkan para lelaki yang selalu mengumbar kata-kata ambigunya melainkan menjadi cambuk bagi kami kaum wanita. Cambukan yang sangat keras bahwasanya menjadi seorang wanita dengan kodratinya sebagai wanita lemah lembut tidak menutup kemungkinan jika sekali-kali ia harus tegas terhadap dirinya. Tegas menepis segala rasa yang dapat mengotori hatinya.

Tegas tanpa batas waktu. Apapun dan siapapun yang telah membuat hati kotor. Tepislah dan singkirkan sejauh-jauhnya. Karena ketika sudah terjerumus dan tergoda sulitlah ia untuk menepisnya.
Namun jika memang perasaan itu sudah melewati gerbang hati. Teruslah bentengi dengan sekokoh-kokohnya benteng, jangan sampai ia menjadi penghuni ilegal hati kita. Apalagi sampai mengakar. Naudzubillah.

Kita bermain analogi saja, kita analogikan hati kita ibarat rumah. Rumah mewah yang dihiasi berbagai ornamen indah, klasik nan mahal namun sejuk bila di dalamnya. Siapa yang tidak mau memiliki rumah seperti itu. Laiknya sesuatu yang kita idamkan pastinya kita ingin segala sesuatunya perfect dan terbaik serta apapun akan kita lakukan dengan segala upaya untuk mendapatkannya.

Rumah mewah, indah, klasik dan sejuk. Rumah idaman setiap orang.

Saya gambarkan rumah mewah karena rumah mewah hanya akan dimiliki oleh orang-orang kaya. Kita tahu bahwa di setiap rumah mewah pastinya luas dan sangat besar. Tak ada rumah mewah yang halamannya sempit. Begitupun dengan hati, hati ibarat rumah mewah karena hanya akan dimiliki oleh orang yang kaya hatinya. Kaya dengan ornamen dzikir, dzikir kepada Allah.

Selanjutnya rumah yang indah, rumah yang indah mungkin ini relatif. Tapi rumah yang indah pasti adalah rumah yang bersih. Mana mungkin rumah itu disebut indah jika di dalamnya kotor, tidak pernah dibersihkan, dijaga ataupun dirawat. Itulah kenapa saya menyebut hati ini ibarat rumah yang indah. Memandanginya setiap waktu adalah ketenangan dan ketenteraman. Hati yang selalu dibersihkan melalui tutur kata dan prasangkaan yang baik.

Kemudian rumah klasik, rumah klasik identik dengan mahal. Dinamakan rumah klasik bukan berarti tidak mengikuti zaman, melainkan memodifikasi yang akan membuatnya tampak lebih indah tanpa meninggalkan ornamen utamanya. Itulah hati. Hati ibarat rumah klasik yang mahal yang akan dimiliki oleh bukan sembarang orang. Ialah orang yang mampu mengelola hati namun tak meninggalkan sang pemilik utamanya yaitu Allah.

Terakhir yaitu rumah yang sejuk. Sejuk karena memiliki taman-taman yang dikelilingi tumbuhan hijau dan subur. Tumbuhan yang terus menghasilkan oksigen-oksigen yang dapat menyegarkan penghuninya. Jika berada di dalamnya orang akan merasa nyaman dan tak bosan jika berlama-lama. Hati seperti inilah yang akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa menyuburkan taman-tamannya dengan tilawatil qur'an.

Alangkah beruntungnya jika kita para wanita memiliki hati seperti yang dianalogikan diatas. Minimalnya ada satu diantara analogi tersebut yang kita miliki.
    
Dan bagi yang mau menjadi penghuni legal hati dari keempat analogi diatas pastinya harus membuat perjanjian terlebih dahulu alias kontrak hati dengan pemilik hati, yaitu Allah swt. Caranya yaitu melakukan transaksi ijab qabul dengan mahar sebagai bayarannya. Sehingga barulah ia bisa menempati hati secara legal. ^^

Hidup Setelah Mati

Mengambil pelajaran dari setiap kejadian adalah hikmah. Hikmah hanya bisa dirasakan bagi orang-orang yang mengenal arti bersyukur dan memahami pentingnya hidup. Allah memberikan kesempatan hidup di dunia kepada makhlukNya hanya sekali. Sudah kita ketahui bahwa hidup di dunia itu hanya sepersekiannya apabila hidup di akherat kelak. Hidup setelah mati. Jangan salah, tidak selamanya kita akan hidup di dunia. Ada kehidupan akherat yang telah menunggu kita sebagai penghuninya.

Senin, 30 September 2013

Kau Kawan Sahabat dan Teman

Lagi seneng-senengnya dengerin lagu ini, alasannya bukan karena sedang mellow atau galau..tapi ukhuwah yang mengingatkanku akan kawan, sahabat, juga teman.
Teh Asih Srie Mustari dengan kewibaannya membuat orang segan pada beliau namun tetap dekat.
Teh Tika Astriana, dengan kelembutannya membuat orang di sekelilingnya merasa nyaman dengan beliau, dan itsar yang menjadi kekhasan beliau..selalu mementingkan kepentingan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri.
Denovi Luthfiyani, seorang akhwat yang tegas dan berani..jika memang menurut beliau dan syariat salah ia akan dengan tegas menentangnya tak memandang itu tua, muda atau teman sebayanya.
Teh Elah Nurlaelah Sari, informan yang banyak tahu dengan segudang pengalamannya..banyak ilmu yang di dapat dari beliau apalagi tentang kemasyarakatan.
Teh Atin Pertamasari, seorang akhwat yang ulet..memang tak banyak bicara tapi ada suatu kekhasan dari beliau yaitu senyumnya mirip akhwat di kartun islami..persis banget.
Teh Nurmala Sari, dengan diamnya beliau mampu menjadi a good listener..saya pribadi sangat senang keluguannya..orangnya ga pernah bisa nolak tapi orang lain pun gakan pernah bisa marah padanya.
Mba Frima Rahmulia, kalo akhwat yang jago analisis ini orangya ga pernah diem..pencair, peramai dan tukang bikin heboh suasana..kalo ga ada beliau ga rame kayanya.

Kau, Kawan, Sahabat & Teman
Album : Tika Itu
Munsyid : Unic

Ketika mula bertemu

Terasa bagai telah lama bersua
Kau sambut hulur tanganku
Bertegur sapa penuh mesra

Masa terus berlalu
Dan kita tetap seiringan berjalan
Menempuh onak liku
Lalui semua suka dan duka bersama

Biarlah apapun rahsia
Dan kelemahanmu tetap engkau temanku

Riangnya saat kita ketawa
Asyik senda dan bercerita
Walau sesekali pandangan kita berbeza
Andainya tetap serupa

Adakalanya kita juga saling terluka
Namun di akhirnya kita tetap bersama

Dan kini dipisahkan dua benua
Saling mengejar cita
Tak pernah kulupakan
Detik yang indah bersamamu temanku

Huuuu....aaaaa.....

(ulang dari mula)

Kuasti suatu masa
Engkau dan aku kan bertemu semula
Kembali menjalinkan detik nan indah
Untuk kenangan bersama

Selasa, 24 September 2013

Hanya Sebuah Lirik Lagu

Jangan Jatuh Cinta
Album : Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta
Munsyid : Maidany

Kawan...

Suatu ketika mungkin kita pernah jatuh hati memendam rasa atau suka pada seseorang yang kita kagumi
Namun banyak sekali yang salah mengekspresikan cinta hingga ia terpedaya dengan cintanya
Sahabatku...
Marilah kita alihkan energi cinta kita 
Bukan untuk melihat...
bukan hanya untuk memikirkan bahwa dirinyalah yang terbaik bagi kita
Namun untuk mempersiapkan sehingga jika suatu saat kelak Allah telah berikan pada kita SATU yang tepat untuk diri kita
Kita akan komitmen dengan dirinya
Sahabatku... 
Para pecinta sejati bukanlah ia yang mengumbar-umbar pesona cintanya
Namun para pecinta sejati adalah ia yang siap untuk komitmen memberikan cintanya hanya untuk yang halal bagi dirinya
Saudaraku...
Mari kita bangun cinta hingga cinta kekal sampai surgawi

Di sini pernah ada rasa simpati
Di sini pernah ada rasa mengagumi
Rasa ingin memilikimu
Memasukkanmu ke dalam hati ini
Menjadi penghuni...

Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri...
Namun ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku Tertipu...

Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang pernah ku tanam

Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan

Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang pernah ku tanam
pada seseorang...

Sabtu, 21 September 2013

Tingkatan-tingkatan Cinta

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bahasan ini saya dapat sewaktu beberapa bulan awal halaqah, tepatnya Senin tanggal 9 Mei 2011. Kalo sudah menyangkut tentang Cinta..entah kenapa para penggiat ngaji ini jadi langsung sumringah. Tak ketinggalan pun dengan saya. Maklum kala itu memang lagi maraknya isu nikah muda. Apalagi memang dari angkatan kami ada beberapa mahasiswi yang sudah menggenapkan separuh agamanya, yaitu nikah. Hmm..bentar loh bahasannya ko jadi ke nikah yaa :D
Kembali ke bahasan awal, tingkatan-tingkatan cinta.

Tingkatan-tingkatan cinta terdiri dari 6 tingkatan, diantaranya:
  1. At-tatayum (yang paling dalam atau tinggi). Artinya cinta yang seutuhnya dan sedalam-dalamanya. Entah itu setinggi atau sedalam apa, yang penting cinta ini adalah tingkatan cinta yang paling atas..cinta diatas cinta..begitu kata murabbi bilang :)
  2. Al-'Isq. Artinya cinta kepada sesama manusia, seperti cinta kepada Rasulullah SAW. Cinta karena kesempurnaan yang dimilikinya (istimewa). Ada empat alasan kenapa kita diwajibkan untuk mencintai Beliau, diantaranya: Untuk orang-orang beriman, Allah mewajibkan dalam Al-Qur'an untuk mencintainya dan mengikutinya (Q.S. Ali Imran: 31); Allah mencintai Beliau dan memilih Beliau sebagai pembawa risalah; Rasulullah SAW sangat mencintai segenap umat Beliau; dan Agama yang sebaik-baik dibawa oleh Rasulullah SAW adalah sebaik-baik agama, yaitu Islam.
  3. Asy-Syauq (rindu). Rindu yang diberikan kepada sesama manusia karena motivasi aqidah dan akhlak, seperti kepada pasangan (istri atau suami) dan keluarga.
  4. Ash-Shababah (curahan). Curahan yang diberikan kepada sesama manusia karena mempunyai satu fiqrah, tujuan dan cita-cita yang sama, contohnya persahabatan.
  5. Al-'Athf (empati). Ini karena iba dan kasihan ingin membahagiakan orang lain.
  6. Al-'Alaqoh (hubungan atau keterkaitan). Ini tingkatan yang paling akhir, cinta yang disebabkan kecintaan kita terhadap suatu objek atau benda dan kemanfaatannya, contohnya gadget, motor, mobil, dsb.

Itulah sedikitnya bahasan yang saya dapat di pertemuan halaqah kala itu. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada murabbi, teh Ika, sang dosen TI yang super the best karena setidaknya telah memberikan gambaran kepada kami tentang tingkatan cinta..mudah-mudahan ini bisa jadi ukuran kami bahwa sudah sejauh mana cinta kami terhadap Rabb, Sang Pemilik nyawa ini, dan sedalam apa cinta kami kepada baginda uswatun hasanah, Rasulullah SAW. Mudah-mudahan ada kebermanfaatan dari tulisan saya ini. Wal 'afwu minkum. Wassalamu'alaikum :)

Jumat, 20 September 2013

Ulasan Buku


“Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Kami”
Karya M. Lili Nur Aulia

Buku ini kecil dan tidak terlalu tebal, hanya 155 halaman. Namun, sangat berat bila dibaca karena sarat makna dan perlu ada pemahaman yang lebih dalam, mengenai isi dari setiap bacaannya.
Buku ini terbagi ke dalam 5 bagian pokok bahasan. Bab I: Dari Sini Kami Memulai, lebih banyak menjelaskan tentang mengapa kami harus berada di jalan da’wah dan bagaimana cara memulainya. Inti dari bab pertama ini adalah jalan da’wah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan da’wah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup dunia dan akhirat kami. Itulah mengapa kami berada di jalan da’wah ini.
Bab II: Ketika Kami Membangun Kebersamaan, menjelaskan tentang posisi kita yang baru mau menjadi bagian dalam jalan da’wah ini. Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya. Estafeta perjuangan da’wah terus berlangsung dari generasi ke generasi, dimulai dari perjuangan da’wah Nabi terdahulu hingga estafet penyempurnaan isi dan materi da’wah yang telah disempurnakan dengan kehadiran Rasulullah SAW. Namun tidak sampai disana, estafeta perjuangannya harus terus berlanjut dan diwariskan untuk para sahabatnya, generasi tabi’in hingga para juru da’wah yang berjalan di atas jalan perjuangannya di hari ini. Dan kami ingin menjadi bagian dari batu bata dari bangunan da’wah yang agung ini. Sebuah bangunan yang telah dirintis oleh para anbiya dan orang-orang shalih. Bangunan da’wah untuk menyeru manusia untuk kembali ke jalan Allah SWT. Akan tetapi, tidak hanya sekadar menjadi batu bata biasa. Perlu ada kekhasan, keunggulan dan keunikan yang harus dimiliki. Sebagaimana para nabi dan salafus shalih, memiliki kriteria istimewanya yang menghiasi perjalanan mereka dalam memperjuangkan agama Allah SWT.
Bab III: Perjalanan Beraroma Semerbak, bercerita tentang perjalanan penempuh jalan da’wah. Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jama’ahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh al haq, maka ia akan tercerai berai oleh kebathilan. Boleh saja, orang menganggap keterikatan kami di jalan ini, membawa kerugian materil untuk kami. Itu karena mereka melihat, banyak energi yang kami kontribusikan untuk kepentingan perjuangan kami di jalan ini. Silahkan saja, jika ada orang yang memandang kami sebagai orang yang tak beruntung karena meluangkan banyak rentang waktu untuk kepentingan orang lain, sementara diri kami sendiri tampak belum mapan. Tapi sebenarnya, melalui jalan ini, kami justru mendapatkan suatu hal yang lain. Jalan ini telah memberikan peranan besar kepada kami dalam mendidik dan menempa kami untuk sangat menghargai waktu. Kehidupan di jalan ini, bersama saudara-saudara kami yang mengiringi perjalanan ini, telah memberi pelajaran berharga setidaknya dalam dua hal, sebagaimana yang didapati oleh Imam Asy Syafi’i saat ia hidup bersama kaum shuffah. Pertama, dalam kedisiplinan menghargai waktu. Bahwa waktu laksana pedang yang bisa menebas siapapun yang tidak bisa menguasainya. Kedua, dalam upaya mengisi waktu-waktu hidup dengan kegiatan yang penuh manfaat. Bahwa waktu hidup harus terisi dengan ragam kegiatan hingga menyibukkan kami dari aktivitas yang bathil. Agenda di jalan da’wah ini begitu banyak mengisi hari-hari kami. Sehingga di jalan da’wah lah kami lebih mengerti dan mengkhayati ungkapan Imam Hasan Al Banna rahimahullahal waajibaat aktsaru minal awqaat”. Bahwa kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.
Bab IV: Ketika Melewati Jalan Mendaki. Inilah bagian klimaks dari buku ini. Begitulah, jalan da’wah ini mengajarkan bahwa sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Begitupun dengan para pelaku yang menempuh jalan da’wah ini. Jalan da’wah memang tidak ditempuh oleh Malaikat. Ini jalan para manusia. Lebih dari itu, ini adalah jalan orang-orang yang ingin memperbaiki diri dari kekeliruan. Mereka yang bergabung di jalan da’wah ini tidak lain adalah orang-orang yang menyadari betapa banyak kekeliruan mereka dan betapa mereka memerlukan bantuan orang lain untuk memperbaiki diri. Apalagi bila mereka juga secara realitas terus menerus berbenturan dengan arus yang menghantam dan mengarahkan mereka kearah yang berbeda. Namun, ada satu hal yang menjadi komitmen mereka, tidak ada kata mundur dalam jalan da’wah ini. Dan kami termasuk ke dalam salah satu bagian dari mereka.
Bab V: Kesejukan yang Meringankan Langkah. Keletihan itu, akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah SWT. Menempuh perjalanan ini, memang menyimpan lelah. Terkadang, keletihan pun dirasakan setelah melakukan ragam aktivitas dan tanggung jawab da’wah. Tidak jarang, adapula diantara penempuh jalan da’wah ini yang merasa begitu terkuras waktu, pikiran dan tenaganya ketika telah terlampau banyak menempuh perjalanan di jalan ini. Sebuah kondisi yang boleh jadi membuat seseorang mengalami futur atau terhenti dari aktivitas setelah sebelumnya giat. Terkadang, mungkin saja ada yang mengeluarkan keluhan atau beban yang dijalaninya. Lalu bertanya bagaimana caranya untuk mengatasi kesempitan waktu dan banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjakan. Tapi kondisi-kondisi itulah yang membuat kami semakin mengerti.
Untuk menutup ulasan buku ini, saya mengutip dari nasihatnya Sayyid Quthb rahimahullah, beliau mengatakan bahwa, “Mareka (para penegak da’wah) tidak boleh putus asa dari memperbaiki jiwa dan menanamkan respon baik dari hati orang yang dida’wahi. Meski apapun pengingkaran dan pendustaan yang dihadapi. Meski penolakan dan pembangkangan seperti apapun yang muncul. Jika seratus kali, da’wah belum sampai kepada hati. Mungkin akan sampai pada seratus satu kali. Jika seribu kali, da’wah belum masuk di dalam jiwa. Mungkin akan masuk pada seribu satu kali. Dan seterusnya….Jalan da’wah ini bukanlah perjalanan yang lembut dan mudah. Di sana ada puing-puing kebatilan dan kesesatan. Taqlid dan kebiasaan yang bersemayam dalam hati, yang harus disingkirkan secara perlahan-lahan dngan berbagai cara. Semua lokasi yang sensitif harus disentuh…” (Fi Zilal Al Qur’an, 4/2394)

Minggu, 15 September 2013

KAMMI MUSLIM NEGARAWAN





PLANET LAIN

Hidup di Bumi kini sudah tak senyaman dulu. Aku selalu dibayang-bayangi oleh kata ‘Deadline’ ‘Deadline’ dan ‘Deadline’. Ini semua disebabkan karena tumpukan tugas pekerjaan. Pekerjaanku sebagai seorang guru di sekolah negeri ternama menuntutku untuk memenuhi 50 jam mengajar dalam seminggu dan tugas-tugas yang harus dikerjakan rutin setiap harinya. Rasanya waktu 24 jam di Bumi itu sudah bergeser menjadi 10 jam. Tak terasa. Waktu begitu cepat berputar.
 “Bumi kini sudah tak asyik lagi,” pikirku kacau.
Akhirnya kuputuskan untuk bermutasi ke planet lain. Planet yang jauh lebih mengasyikan daripada Bumi. Planet yang hanya mengenal siang dan malam. Tak mengenal jam, hari, minggu, bulan ataupun tahun. Pikiranku sudah melayang jauh menembus awan melewati lintasan orbit dan hijrah di satu planet yang indah nan bebas.
Aku terkaget. Ini bukanlah khayalan. Ini bukan pikiranku saja.
“Ini nyata bro!” ucapku kagum dan tak menyangka.
“I am Freeeeeeeeee,” teriakku kencang serasa bebas dari hiruk pikuknya Bumi.
Sekarang aku bisa menikmati hidupku disini. Aku bisa merasakan aura positif dari planet ini. Pikirku, planet ini menyambutku dengan senang hati. Tentunya, karena tak ada yang bisa menolak orang seindah aku ini. Disini waktu begitu terasa lama sekali. Aku bertanya kepada orang yang sepertinya juga berasal dari Bumi yang sengaja hijrah ke planet ini.
“Hey, apakah kamu berasal dari Bumi?” tanyaku.
“Ya, kamu orang Bumi juga?”
Aku tersenyum, “Aku baru saja mutasi ke planet ini. Sudah berapa lama kamu tinggal disini?”.
“Entahlah, aku tidak tahu. Disini tidak ada ukuran waktu, yang aku tahu hanya ada siang dan malam saja.”

Planet ini sangat pas buatku dan sepertinya aku akan sangat nyaman tinggal disini.

STAY ALIVE

Sore hari, seperti biasanya aku suka bermain game di laptop kesayangan. Baru saja aku membeli dvd game terbaru 2020, namanya “Stay Alive”. Game ini baru saja diliris dan belum ada di pasaran. Aku mendapatkannya langsung dari pembuatnya yang diberikannya sebagai hadiah.

Kala itu, ada sedikit yang berbeda. Aku ditemani oleh sekelompok geng ku di sekolah. Bagiku dan temanku mencoba permainan bersama-sama adalah hal yang paling mengasyikan di dunia. Semua temanku sudah lengkap dan berkumpul di ruangan keluarga rumahku. Langsung saja kami mulai gamenya, pertama kami baca peraturan permainan. Ternyata memang permainan ini harus selalu stand by dan koneksi dengan internet. Kami segera koneksikan internetnya, dan memasang headset di masing-masing orang. Permainan pun dimulai. Permainan ini dirancang khusus sesuai dengan kenyataan, dimulai dari tempat, suasana dan cerita kehidupannya pun seperti nyata. Dalam peraturan permainannya, jika diantara kita yang bermain ada yang game over maka itu artinya dalam kehidupan nyata kita akan mengalami kematian persis dengan apa yang ada di permainan. Players yang selamat dalam permainan berarti dialah pemenangnya. Maka dari itu, “Stay Alive” itulah tujuannya.