Sabtu, 11 Oktober 2014
Senin, 15 September 2014
Golongan Obyek Dakwah (golongan yang berprasangka buruk)
Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kacamata hitam pekat, dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus berada pada keraguan, kesinisan dan gambaran negatif tentang kami.
Bagi kelompok macam ini, kami bermohon kepada Allah SWT. agar berkenan memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan memberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami memohon kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus.
Kami akan selalu mendakwahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdoa kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki mereka. Memang, hanya Allah-lah yang dapat menunjuki mereka. Kepada Nabi-Nya Allah berfirman tentang segolongan manusia,
"Sesungguhnya, kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang kamu suka, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang ia kehendaki." (Al-Qashash: 56)
Walaupun begitu, kami tetap mencintai mereka dan berharap bahwa suatu saat mereka akan sadar dan percaya pada dakwah kami. Terhadap mereka kami menggunakan semboyan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.,
"Allahummagfirliqaumii fainnahum laa ya'lamuun"
Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Kini tiba saatnya bagi setiap muslim untuk memahami tujuan hidupnya dan menentukan arah perjalanannya. Ia harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menempuh jalan tersebut agar dapat mencapai tujuannya. Adapun mereka yang lalai dan terus dalam kebingungan, yang suka bersantai-santai, yang hatinya buta dan gampang terbujuk oleh rayuan, maka tidak ada tempat bagi mereka di jalan panjang orang-orang yang beriman.
-Diambil dari bukunya Hasan Al-Banna-
Bagi kelompok macam ini, kami bermohon kepada Allah SWT. agar berkenan memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan memberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami memohon kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus.
Kami akan selalu mendakwahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdoa kepada Allah SWT. agar berkenan menunjuki mereka. Memang, hanya Allah-lah yang dapat menunjuki mereka. Kepada Nabi-Nya Allah berfirman tentang segolongan manusia,
"Sesungguhnya, kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang kamu suka, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang ia kehendaki." (Al-Qashash: 56)
Walaupun begitu, kami tetap mencintai mereka dan berharap bahwa suatu saat mereka akan sadar dan percaya pada dakwah kami. Terhadap mereka kami menggunakan semboyan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.,
"Allahummagfirliqaumii fainnahum laa ya'lamuun"
Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Kini tiba saatnya bagi setiap muslim untuk memahami tujuan hidupnya dan menentukan arah perjalanannya. Ia harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menempuh jalan tersebut agar dapat mencapai tujuannya. Adapun mereka yang lalai dan terus dalam kebingungan, yang suka bersantai-santai, yang hatinya buta dan gampang terbujuk oleh rayuan, maka tidak ada tempat bagi mereka di jalan panjang orang-orang yang beriman.
-Diambil dari bukunya Hasan Al-Banna-
Senin, 23 Juni 2014
Aku Bukan Iri
bukan aku tak suka
tapi aku geli mendengarnya
bukan aku tak mau
tapi aku bosan melihatnya
kamu selalu saja seperti itu
membanggakan diri dan meninggikan hati
ini bukan iri
jelas ini bukan iri
terlebih lagi dengki
berhentilah...berhentilah
aku tak mau kau terjerumus pada lubang yang lebih dalam
bukan karena aku orang yang suci pun tak terjerumus juga
melainkan aku sudah merasakan hal itu lebih dulu
keluarlah...keluarlah
tapi aku geli mendengarnya
bukan aku tak mau
tapi aku bosan melihatnya
kamu selalu saja seperti itu
membanggakan diri dan meninggikan hati
ini bukan iri
jelas ini bukan iri
terlebih lagi dengki
berhentilah...berhentilah
aku tak mau kau terjerumus pada lubang yang lebih dalam
bukan karena aku orang yang suci pun tak terjerumus juga
melainkan aku sudah merasakan hal itu lebih dulu
keluarlah...keluarlah
Bukan Masalah
ini bukan masalah aku
yang hanya tau masalah tentang hati
ini bukan masalah kamu
yang hanya tau masalah tentang logika
masalah sebatas retorika
pintar dimulut diucap beribu kata
masalah sebatas wacana
hanya terungkap sesaat itu saja
ini bukan masalah aku, kamu ataupun kita..
yang hanya tau masalah tentang hati
ini bukan masalah kamu
yang hanya tau masalah tentang logika
masalah sebatas retorika
pintar dimulut diucap beribu kata
masalah sebatas wacana
hanya terungkap sesaat itu saja
ini bukan masalah aku, kamu ataupun kita..
Cinta dalam Sangkaan
Anggaplah itu sebagai cinta
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga takan ada komunikasi cinta saling berbalas
Anggaplah itu sebagai cinta
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga apabila bertemu
takan ada degup jantung yang semakin keras
Tetaplah dalam sangkaanmu
bertegur sapa tanpa saling ragu
bercengkrama tanpa malu
namun senantiasa menjaga adab berperilaku
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga takan ada komunikasi cinta saling berbalas
Anggaplah itu sebagai cinta
yang bertepuk sebelah tangan
sehingga apabila bertemu
takan ada degup jantung yang semakin keras
Tetaplah dalam sangkaanmu
bertegur sapa tanpa saling ragu
bercengkrama tanpa malu
namun senantiasa menjaga adab berperilaku
Senin, 13 Januari 2014
Heart: The Firm Without Term
Simpan perasaan itu sampai tiba waktunya. Pastibisa!
Hanya kalimat itu yang saya ingat dan menempel di otakku. Entah kenapa semenjak itu hati ini dipenuhi rasa bersalah dan terasa kotor sekali. Menghilangkannya dan membersihkannya adalah suatu hal tersulit. Menjadi manusia hina menurutku itu yang pas buatku. Tapi itu tidak menjadikkanku terus larut dalam kubangan yang menjijikkan.
Wanita memang sensitif sekali hatinya. Hatinya lembut sehingga terkadang mudah larut dengan kata-kata manis dan menggoda terlebih lagi oleh kata-kata ambigu dari sang yang dikagumi. Pernyataan ini bukan berarti menyalahkan para lelaki yang selalu mengumbar kata-kata ambigunya melainkan menjadi cambuk bagi kami kaum wanita. Cambukan yang sangat keras bahwasanya menjadi seorang wanita dengan kodratinya sebagai wanita lemah lembut tidak menutup kemungkinan jika sekali-kali ia harus tegas terhadap dirinya. Tegas menepis segala rasa yang dapat mengotori hatinya.
Tegas tanpa batas waktu. Apapun dan siapapun yang telah membuat hati kotor. Tepislah dan singkirkan sejauh-jauhnya. Karena ketika sudah terjerumus dan tergoda sulitlah ia untuk menepisnya.
Namun jika memang perasaan itu sudah melewati gerbang hati. Teruslah bentengi dengan sekokoh-kokohnya benteng, jangan sampai ia menjadi penghuni ilegal hati kita. Apalagi sampai mengakar. Naudzubillah.
Kita bermain analogi saja, kita analogikan hati kita ibarat rumah. Rumah mewah yang dihiasi berbagai ornamen indah, klasik nan mahal namun sejuk bila di dalamnya. Siapa yang tidak mau memiliki rumah seperti itu. Laiknya sesuatu yang kita idamkan pastinya kita ingin segala sesuatunya perfect dan terbaik serta apapun akan kita lakukan dengan segala upaya untuk mendapatkannya.
Rumah mewah, indah, klasik dan sejuk. Rumah idaman setiap orang.
Saya gambarkan rumah mewah karena rumah mewah hanya akan dimiliki oleh orang-orang kaya. Kita tahu bahwa di setiap rumah mewah pastinya luas dan sangat besar. Tak ada rumah mewah yang halamannya sempit. Begitupun dengan hati, hati ibarat rumah mewah karena hanya akan dimiliki oleh orang yang kaya hatinya. Kaya dengan ornamen dzikir, dzikir kepada Allah.
Selanjutnya rumah yang indah, rumah yang indah mungkin ini relatif. Tapi rumah yang indah pasti adalah rumah yang bersih. Mana mungkin rumah itu disebut indah jika di dalamnya kotor, tidak pernah dibersihkan, dijaga ataupun dirawat. Itulah kenapa saya menyebut hati ini ibarat rumah yang indah. Memandanginya setiap waktu adalah ketenangan dan ketenteraman. Hati yang selalu dibersihkan melalui tutur kata dan prasangkaan yang baik.
Kemudian rumah klasik, rumah klasik identik dengan mahal. Dinamakan rumah klasik bukan berarti tidak mengikuti zaman, melainkan memodifikasi yang akan membuatnya tampak lebih indah tanpa meninggalkan ornamen utamanya. Itulah hati. Hati ibarat rumah klasik yang mahal yang akan dimiliki oleh bukan sembarang orang. Ialah orang yang mampu mengelola hati namun tak meninggalkan sang pemilik utamanya yaitu Allah.
Terakhir yaitu rumah yang sejuk. Sejuk karena memiliki taman-taman yang dikelilingi tumbuhan hijau dan subur. Tumbuhan yang terus menghasilkan oksigen-oksigen yang dapat menyegarkan penghuninya. Jika berada di dalamnya orang akan merasa nyaman dan tak bosan jika berlama-lama. Hati seperti inilah yang akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa menyuburkan taman-tamannya dengan tilawatil qur'an.
Alangkah beruntungnya jika kita para wanita memiliki hati seperti yang dianalogikan diatas. Minimalnya ada satu diantara analogi tersebut yang kita miliki.
Dan bagi yang mau menjadi penghuni legal hati dari keempat analogi diatas pastinya harus membuat perjanjian terlebih dahulu alias kontrak hati dengan pemilik hati, yaitu Allah swt. Caranya yaitu melakukan transaksi ijab qabul dengan mahar sebagai bayarannya. Sehingga barulah ia bisa menempati hati secara legal. ^^
Hanya kalimat itu yang saya ingat dan menempel di otakku. Entah kenapa semenjak itu hati ini dipenuhi rasa bersalah dan terasa kotor sekali. Menghilangkannya dan membersihkannya adalah suatu hal tersulit. Menjadi manusia hina menurutku itu yang pas buatku. Tapi itu tidak menjadikkanku terus larut dalam kubangan yang menjijikkan.
Wanita memang sensitif sekali hatinya. Hatinya lembut sehingga terkadang mudah larut dengan kata-kata manis dan menggoda terlebih lagi oleh kata-kata ambigu dari sang yang dikagumi. Pernyataan ini bukan berarti menyalahkan para lelaki yang selalu mengumbar kata-kata ambigunya melainkan menjadi cambuk bagi kami kaum wanita. Cambukan yang sangat keras bahwasanya menjadi seorang wanita dengan kodratinya sebagai wanita lemah lembut tidak menutup kemungkinan jika sekali-kali ia harus tegas terhadap dirinya. Tegas menepis segala rasa yang dapat mengotori hatinya.
Tegas tanpa batas waktu. Apapun dan siapapun yang telah membuat hati kotor. Tepislah dan singkirkan sejauh-jauhnya. Karena ketika sudah terjerumus dan tergoda sulitlah ia untuk menepisnya.
Namun jika memang perasaan itu sudah melewati gerbang hati. Teruslah bentengi dengan sekokoh-kokohnya benteng, jangan sampai ia menjadi penghuni ilegal hati kita. Apalagi sampai mengakar. Naudzubillah.
Kita bermain analogi saja, kita analogikan hati kita ibarat rumah. Rumah mewah yang dihiasi berbagai ornamen indah, klasik nan mahal namun sejuk bila di dalamnya. Siapa yang tidak mau memiliki rumah seperti itu. Laiknya sesuatu yang kita idamkan pastinya kita ingin segala sesuatunya perfect dan terbaik serta apapun akan kita lakukan dengan segala upaya untuk mendapatkannya.
Rumah mewah, indah, klasik dan sejuk. Rumah idaman setiap orang.
Saya gambarkan rumah mewah karena rumah mewah hanya akan dimiliki oleh orang-orang kaya. Kita tahu bahwa di setiap rumah mewah pastinya luas dan sangat besar. Tak ada rumah mewah yang halamannya sempit. Begitupun dengan hati, hati ibarat rumah mewah karena hanya akan dimiliki oleh orang yang kaya hatinya. Kaya dengan ornamen dzikir, dzikir kepada Allah.
Selanjutnya rumah yang indah, rumah yang indah mungkin ini relatif. Tapi rumah yang indah pasti adalah rumah yang bersih. Mana mungkin rumah itu disebut indah jika di dalamnya kotor, tidak pernah dibersihkan, dijaga ataupun dirawat. Itulah kenapa saya menyebut hati ini ibarat rumah yang indah. Memandanginya setiap waktu adalah ketenangan dan ketenteraman. Hati yang selalu dibersihkan melalui tutur kata dan prasangkaan yang baik.
Kemudian rumah klasik, rumah klasik identik dengan mahal. Dinamakan rumah klasik bukan berarti tidak mengikuti zaman, melainkan memodifikasi yang akan membuatnya tampak lebih indah tanpa meninggalkan ornamen utamanya. Itulah hati. Hati ibarat rumah klasik yang mahal yang akan dimiliki oleh bukan sembarang orang. Ialah orang yang mampu mengelola hati namun tak meninggalkan sang pemilik utamanya yaitu Allah.
Terakhir yaitu rumah yang sejuk. Sejuk karena memiliki taman-taman yang dikelilingi tumbuhan hijau dan subur. Tumbuhan yang terus menghasilkan oksigen-oksigen yang dapat menyegarkan penghuninya. Jika berada di dalamnya orang akan merasa nyaman dan tak bosan jika berlama-lama. Hati seperti inilah yang akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa menyuburkan taman-tamannya dengan tilawatil qur'an.
Alangkah beruntungnya jika kita para wanita memiliki hati seperti yang dianalogikan diatas. Minimalnya ada satu diantara analogi tersebut yang kita miliki.
Dan bagi yang mau menjadi penghuni legal hati dari keempat analogi diatas pastinya harus membuat perjanjian terlebih dahulu alias kontrak hati dengan pemilik hati, yaitu Allah swt. Caranya yaitu melakukan transaksi ijab qabul dengan mahar sebagai bayarannya. Sehingga barulah ia bisa menempati hati secara legal. ^^
Hidup Setelah Mati
Mengambil pelajaran dari setiap kejadian adalah hikmah. Hikmah hanya bisa dirasakan bagi orang-orang yang mengenal arti bersyukur dan memahami pentingnya hidup. Allah memberikan kesempatan hidup di dunia kepada makhlukNya hanya sekali. Sudah kita ketahui bahwa hidup di dunia itu hanya sepersekiannya apabila hidup di akherat kelak. Hidup setelah mati. Jangan salah, tidak selamanya kita akan hidup di dunia. Ada kehidupan akherat yang telah menunggu kita sebagai penghuninya.
Langganan:
Postingan (Atom)